Kamis, 30 April 2020

Assalamualaikum Ramadhan 2020,.


Assalamualaikum Ramadhan 2020,.

Bulan yang selalu ditunggu- tunggu umat muslim diseluruh dunia. Bagaimana tidak, limpahan berkah dan pahala akan bisa kita ambil pada hari itu (bagi yang mampu), kenapa demikian ? baiklah akan saya beri alasan, meskipun bulan tersebut selalu ditunggu- tunggu tapi tidak semua orang mampu dan bisa menjalankan amalan yang sama pada waktu itu. akan ada beberapa golongan yang hadir pada bulan ramadhan, yakni yang pertama golongan orang yang fokus pada agama, kedua orang yang fokus pada agama dan dunianya, dan ketiga adalah orang yang fokus pada dunia saja. Tentu saya tidak bisa menilai amalan seseorang, dan tentu ini hanya sedikit prespektif saya.

Selasa, 24 Maret 2020

Agama it's Numer One

Agama dan Segala Pertimbangannya


Sebuah prespektif mengenai jodoh yang islami merupakan salah satu idaman bagi sebagian orang tua. Kenapa demikian, karena bagi mereka seorang yang memiliki pemahaman mengenai agama. Dapat dikatakan memiliki aklaq, tata krama, dan cara beribadah yang baik merupakan hal penting dari pada sekedar memiliki uang yang berlimpah, jabatan maupun sebagainya. KARENA... mereka berpikir bahwa, sebenarnya uang maupun harta duniawi itu bisa dicari namun saat anda menilai dari agamanya tidak akan didapatkan semudah itu. karena hal semacam itu sudah tertanam dari lahir maupun membutuhkan proses yang lama dalam membentuk kepribadian yang baik itu.

Selasa, 17 Maret 2020

Prespektif menjadi seorang guru 1


Pada artikel ini saya akan mencoba menjelaskan sudut pandang guru menurut saya, tentu dapat dikatakan ini sangat subyektif. Ini hanya atas dasar pengalaman dan apa yang saya lihat saja, mungkin agak berlebihan dan kadang kala akan berbeda dengan sudut pandang kalian. Karena ini hanya bersifat opini semata, maka selamat menikmati dan siap untuk dikritik.

PERTANYAAN SERIUS; “APA ANDA YAKIN MENJADI SEORANG GURU ?”

Sabtu, 14 Maret 2020

Orang tua dan harta yang diinginkan


SUDUT MATERIALISTIS ORANG TUA

“Tidak ada orang tua yang ingin anaknya hidup susah.” Motto tersebut dapat diartikan dalam prespektif yang bermacam- macam karena hidup susah memiliki arti yang luas. Sebagaimana tidak menjadi orang kaya, hidup mapan atau bisa dalam berbagai macam hal yang penting bahagia. Pola pikir yang semacam inilah yang menjadikan kata hidup susah menjadi momok tersendiri dalam melihat hari kedepan. Termasuk dalam pola memilih pasangan.
Jelas artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang menurut saya lingkup pembahasannya terlalu luas. Untuk itu saya lebih mempersempit pembahasan yang lebih tertuju pola pemilihan pasangan didasarkan atas unsur duniawi, melihat segalanya dari harta, jabatan, prestise, maupun kekuasaan semata. Menurut hasil diskusi yang sudah berjalan; mereka mengatakan hal ini adalah orang yang meterialistis, tapi bagi saya tidak ada namanya orang materialis bagi mereka yang mampu menyanding/ berjalan selaras dengan orang tersebut. jadi materialis dalam pola pikir saya hanya batasan semu secara vertikal dalam kelas sosial.

Jumat, 28 Februari 2020

Prespektif orang tua dalam memilih calon menantu


Prespektif orang tua dalam memilih calon menantu

Segala pembahasaan pernikahan adalah merupakan hal yang rumit dan menarik untuk dibicarakan, baik hubungan pra-nikah, proses dan tahapan setelah pernikahan itu. Menikah, apa itu sebuah pilihan atau kewajiban ?, bila kita melihat dan mengacu pada nilai dan norma yang berlaku menikah merupakan hak dan kewajiban tentunya. Namun meski demikian pernikahan bukan suatu hal yang mudah untuk dijalankan, bahkan kalau saya berbicara mengenai prosesnya pun pasti begitu rumit dan saya pun tidak akan sanggup membayangkannya.
Oke, jadi dalam hal ini saya akan mencoba menklasifikasikan apa yang dapat saya dapat ambil dari berbagai pengalaman seseorang disekitar saya, karena saya sendiri pun belum mengalami hal tersebut. sebagaimana hal dengan kesadaran saya ini hanya mengutarakan pendapat dan argumentasi yang ada dalam pemikiran saya, dan dipersilakan saling membagi argumentasinya kemudian.
Benar atau tidaknya, pernikahan menyangkut mengenai berbagai aspek. Untuk hal ini saya hanya meninjau dari aspek orang tua saja. Kenapa demikian karena mereka bisa menjadi faktor penentu hubungan kita bisa lanjut pada pelaminan atau hanya sebatas menjalin hubungan saja. Sebagaimana hal ini setiap orang tua memiliki standart yang berbeda tergantung pada ideologi apa yang sedang mereka anut. Ada beberapa hal besar yang bisa kita garis bawahi, yakni agama, duniawi, hati dan apatis. Oke, akan saya kupas sedikit mengenai hal itu;
·        

Kamis, 11 Juli 2019

budaya, antropologi dan pendidikan


I.                  Pendahuluan
Indonesia merupakan negara keempat yang memiliki populasi terbesar didunia. hal ini tercatat terdapat 237 juta jiwa lebih yang bermukim di indonesia pada tahun 2010. Meski begitu indonesia masih belum tergolong dalam negara maju, melainkan hanya sebagai negara berkembang. Pada bentuknya negara maju tidak hanya dinilai pada sumber daya alam yang dimiliki meliankan juga sumber daya manusia yang memiliki kualitas lebih. Hal inilah yang belum dimiliki oleh indonesia secara umum, yakni masih kurangnya kualitas dari sember daya manusia tersebut. hal inilah yang coba diperbaiki oleh bangsa indonesia dengan jalan meningkatkan kualitas dari pendidikan itu sendiri sebagai tolak ukur memajukan sumber daya manusianya. Pada dasarnya perbaikan kualitas manusia tidak hanya pada pendidikan saja melainkan juga perlu disikapi dalam hal bentuk kebudayaannya.

Jumat, 12 April 2019

bullying - Kekerasan Simbolik


                                                                    Kekerasan Simbolik 
                                                               by : Nursilaningsie, S. Sos

Bullying yang dilakukan oleh kalangan pelajar khususnya pelajar pada jengjang SMP termasuk pada perilku menyimpang yang dilakukan oleh remaja yang biasa disebut dengan delinquency. Perilaku bullying baik dilakukan secara fisik, mental dan verbal terhadap seseorang merupakan tindakan yang termasuk pada fakta sosial. Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 2013: 73). Bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat. Bullying termasuk pada perilaku yang sengaja ditujukan kepada orang lain dan menimbulkan keresahan di dalam norma masyarakat.